0
(0)

“Somasi adalah istilah yang digunakan dalam dunia hukum yang berarti peringatan atau teguran formal dari kreditor kepada debitur yang tidak melakukan pembayaran sesuai dengan perjanjian. Pelajari lebih lanjut mengenai somasi dan bagaimana tindakan hukum yang dapat diambil oleh kreditor.”

Somasi adalah istilah yang digunakan dalam dunia hukum yang berasal dari bahasa Romawi “somatie”, yang memiliki arti seperti order, summons, subpoena, injuction, admonition, dan formal notice.

Dalam konteks hukum Indonesia somasi adalah terjemahan dari ingebrekestelling yang berarti peringatan atau teguran yang disampaikan atas kelalain debitur

Dasar dari somasi adalah Pasal 1238 KUHPerdata yang berbunyi:

“Si berhutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa si berhutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.”

Somasi digunakan dalam situasi dimana debitur tidak melakukan pembayaran sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan. Somasi dikeluarkan oleh kreditor sebagai bentuk peringatan atau teguran yang formal agar debitur segera melakukan pembayaran. Dalam somasi, kreditor harus menyatakan jangka waktu yang sesuai untuk debitur melakukan pembayaran. Apabila debitur tetap tidak melakukan pembayaran sesuai dengan somasi, kreditor dapat mengajukan gugatan ke pengadilan untuk menuntut pembayaran. Oleh karena itu, somasi merupakan tahap awal dari tindakan hukum yang dapat diambil oleh kreditor untuk menuntut pembayaran dari debitur.

Jadi somasi pada dasarnya adalah sebuah tindakan yang dilakukan oleh kreditur yang berasal dari sebuah perjanjian dimana si debitur lalai untuk memenuhi kewajiban hukumnya yang ditentukan dalam perjanjian.

Karena itu somasi berfungsi sebagai pemberian peringatan kepada debitur untuk segera memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian. Jika si debitur mengabaikan somasi maka ia dapat dikategorikan telah melakukan wanprestasi. Akibatnya juga jelas, debitur dapat dituntut dengan ketentuan Pasal 1243 KUHP Perdata yang berbunyi:

“Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.“

Somasi menurut doktrin dan pendapat pengadilan yang berlaku di Indonesia harus disampaikan dalam bentuk tertulis dan tidak perlu dalam akta otentik. Artinya, surat biasa sudah dapat diterima oleh hukum sebagai suatu somasi. Dan pemberian surat somasi tidak memerlukan pertemuan secara langsung.

Lalu bagaimana bentuk surat somasi?

Bentuk surat somasi pada dasarnya berisi perintah kepada debitur untuk melakukan kewajibannya. Sehingga isi dari surat somasi harus menampakkan tuntutan dari kreditur terhadap pemenuhan kewajiban dari debitur.

Yang jelas somasi yang disampaikan secara lisan tidak berlaku sebagai suatu somasi

Selain itu surat somasi juga harus menyebutkan tenggang waktu yang pantas bagi debitur untuk memenuhi permintaan kreditur. Surat somasi tanpa menyebutkan ataupun tanpa memberikan tenggang waktu yang pantas bagi debitur untuk memenuhi kewajibannya, maka dapat ditafsirkan somasi yang disampaikan oleh kreditur tersebut tidak dibuat dengan itikat yang baik

Apakah kabar ini berguna?

Anda yang tentukan bintangnya!

Tingkat Kepuasan 0 / 5. Jumlah pemberi bintang: 0

Belum ada yang kasih bintang! Jadi yang pertama memberi bintang.

Karena kabar ini berguna untuk anda...

Kirimkan ke media sosial anda!

Eksplorasi konten lain dari Chayra.ID

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca